Kamis, 25 November 2010

Iconia, Laptop Dua Layar dari Acer

NEW YORK, KOMPAS.com — Notebook dua layar akankah jadi tren baru? Mungkin saja karena setelah Toshiba pertama kali memperkenalkannya dengan merilis Libretto di ulang tahun ke-25 beberapa waktu lalu, kini Acer pun menyusul. Dalam acara di New York, AS, Selasa (23/11/2010), Acer memamerkan Iconia, laptop dua layar pertamanya.

Iconia menggunakan layar sentuh 14 inci di kedua sisinya. Bagian yang biasanya menjadi tempat keyboard, kini diisi layar sentuh. Layar yang digunakan kokoh karena dilapisi kaca tahan gores buatan Gorilla Glass. Meski tanpa papan ketik, perangkat tersebut dapat difungsikan menjadi laptop dengan menampilkan keyboard virtual, widget, dan menu lainnya di salah satu layar.

Pengguna dapat membagi-bagi tampilan menu desktop di kedua layar. Bisa juga menggunakan kedua layar untuk menjalankan aplikasi berbeda. Misalnya, sembari melihat video di layar atas dan mengecek e-mail, browsing, atau edit foto di layar bawah. Perangkat ini sudah dilengkapi teknologi untuk mendeteksi telapak tangan dan layar akan otomatis menampilkan keyboard virtual saat tangan diletakkan di atas layar.

Acer mengatakan, Iconia menggunakan sistem operasi Windows 7 buatan Microsoft. Prosesornya Intel Core i5 dan dilengkapi memori RAM 4 GB serta hardisk 750 GB. Iconia akan dirilis ke pasar mulai awal 2011.

sumber : yahoo.com

Makin Mudah Mengatur Tab di Browser Web

Tab browsing adalah salah satu fitur penting pada semua browser karena menyederhanakan jumlah jendela yang harus dibuka. Namun, semakin banyak tab juga seringkali menimbulkan masalah baru karena pengguna tidak hafal di mana posisi setiap halaman web yang telah dibuka.

Nah, untuk mengatur tab-tab yang begitu banyak, browser terbaru Opera 11 beta memperkenalkan Tab Stacking (tumpukan tab). Fitur ini berguna untuk mengelompokkan tab-tab tersebut dalam beberapa bagian tanpa harus menambah jendela dan meninggalkan halaman web. Misalnya, mengelompokkan tab berdasarkan kategori atau tema tertentu.

"Sama seperti menumpuk kertas untuk referensi yang akan datang, Tab Stacking adalah sebuah cara mudah untuk mengatur dan mengumpulkan tab yang Anda buka," ujar Jan Standal, VP dari Desktop Products Opera Software, dalam siaran persnya, Rabu (24/11/2010).

Cukup tarik satu tab di atas tab lainnya untuk mengelompokkan. Melayangkan mouse di atas sebuah tab akan menampilkan tumpukan dengan preview visual. Klik ikon panah untuk membentangkan tumpukan yang ada sepanjang barisan tab.

Pengelompokan tab seperti ini juga diperkenalkan Firefox 4 beta, browser terbaru buatan Mozilla. Namanya Panorama. Hanya saja, pengaturan Panorama berbeda dengan Tab Stacking pada Opera 11 beta. Pada Firefox 4 beta, pengguna harus masuk ke menu View> Tab Groups dan memanggil kumpulan tab yang dibuat, tidak muncul sebagai benar-benar tumpukan di browser seperti pada Opera 11 beta namaun seolah seperti jendela baru berisi kumpulan tab tersebut.

Selain tumpukan tab, Opera 11 beta juga memperkenalkan fitur pengaya alias add-ons browser yang meningkatkan kemampuan Opera. Tiga minggu sejak extensions diluncurkan di versi alpha dari Opera 11, lebih dari 500.000 pengaya telah diunduh. Untuk mendorong penambahan extension yang tersedia, setiap harinya ada 10 - 20 extensions baru yang dibuat para developer. Katalog pengaya tersedia di https://addons.labs.opera.com/.

Fitur lainnya disebut Mouse Gestures yang menyediakan cara sederhana dan efektif untuk mengkontrol Opera hanya dengan beberapa jentikan mouse dengan mudah. Sejak perkenalannya di Opera 5, fitur isyarat mouse ini telah terbukti sebagai salah satu fitur Opera yang paling disukai. Opera 11 beta dapat diunduh dari http://www.opera.com/browser/next.

sumber : yahoo.com


Jumat, 12 November 2010

Apa Itu "Wedhus Gembel"?

Wedhus gembel alias domba sebenarnya bukanlah hewan yang banyak dipelihara di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah. Namun, nama wedhus gembel akrab terdengar bagi warga di sekitar Gunung Merapi. Wedhus gembel yang dimaksud ini bukanlah kambing berbulu lebat, melainkan julukan untuk awan panas bergulung-gulung yang acap menyertai letusan Merapi.

Mengutip Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), awan panas Merapi terdiri dari dua bagian. Pertama, bagian fragmen batuan dalam berbagai ukuran, termasuk yang seukuran debu, dan kedua, gumpalan gas bersuhu 200-700 derajat celsius.

Kedua unsur ini bercampur mengalir secara turbulen dengan kecepatan lebih dari 80 kilometer per jam. Yang menewaskan banyak warga lereng Merapi beberapa waktu lalu bahkan mencapai kecepatan 200 km per jam saat turun dari punggung gunung. Abu vulkanik tersebar dari awan panas yang terbang dan terendapkan menurut besar dan arah angin.

Jarak luncur awan panas umumnya bergantung kepada volume dan formasinya dan bergerak mengikuti alur topografi dan lembah sungai.Volume lebih besar akan menjangkau area yang lebih jauh akibat pengaruh momentum dan efek lain. Tak heran apabila pada letusan besar, awan panas bisa menjangkau hingga 15 kilometer. Awan panas letusan biasanya bisa mengalir sejauh lebih dari 8 kilometer dari puncak.

Selain volume, jauhnya jarak luncur awan panas juga dipengaruhi oleh temperatur yang lebih tinggi, kandungan gas lebih banyak, dan memiliki kecepatan awal lateral pada saat jatuh. Dengan kondisi lebih banyak gas dan temperatur tinggi, wedhus gembel dipastikan merusak apa saja yang ditemuinya. Jadi siapa pun yang berada di sekitar Merapi selayaknya tidak ingin bertemu dengan "binatang" satu ini.

SUMBER : KOMPAS.COM

Komet Baru Temuan Astronom Amatir

Sebuah komet baru yang diberi nama Ikeya Murakami (C/2010 V1) baru-baru ini ditemukan oleh seorang astronom amatir Jepang. Menindaklanjuti penemuan itu, seorang astronom Rusia bernama Leonid Elenin berusaha mengobservasi komet itu menggunakan teleskop ISON-NIM yang terdapat di New Mexico, AS.

"Sesaat setelah pengamatan, C/2010 V1 tampak seperti bola terang, tak tampak gambaran detailnya," papar Elenin setelah melakukan pengamatan pertamanya seperti dilansir Space.com, Senin (8/11/2010). Namun, setelah beberapa hari pengamatan, bagian luar dari kepala komet menghilang. "Saya kecewa. Komet itu cepat sekali berubah," ujar Elenin.

Meski demikian, Elenin berhasil melihat bagian dalam dari kepala komet atau koma. "Saya bisa melihat bagian dalam kepala komet itu. Penampakannya seperti komet 17P/Holmes setelah ledakannya pada tahun 2007. Saya juga bisa melihat ekornya yang panjang dan bersinar," kata Elenin.

Komet Ikeya Murakami dalam pengamatan tampak berada di dekat cincin planet Saturnus. Luca Buzzi dan Andrea Aletti dari GV Schiaparelli Astronomical Observatory berhasil mengabadikan komet itu bersama Planet Saturnus pada tanggal 5 November 2010.

"Saya sangat terkesan dengan penemuan amatir ini," ungkap Buzzi menanggapi penemuan amatir ini. Ia yang kala itu tengah melakukan tugas rutin di pusat pengamatannya mengatakan, "Penemuan ini sangat bagus. Dalam era modern yang banyak didominasi oleh riset-riset besar, ternyata masih ada penemuan amatir."

SUMBER : KOMPAS

Inilah Rahasia Kucing Menyeruput Susu

Beberapa peneliti AS, Kamis (11/11/2010), mengungkapkan rahasia cara kucing menghirup air atau susu dengan sangat anggun, fenomena yang berlangsung sangat cepat sehingga tak dapat diikuti oleh pandangan manusia. Kucing termasuk di antara banyak spesies yang, tak seperti manusia, tak dapat menutup mulut dan menyedot.

Dengan bantuan dari video berkecepatan tinggi yang direkam mengenai cairan yang dihirup oleh kucing, para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Princeton University mendapati kucing rumahan dan kucing liar seperti harimau menyeimbangkan daya tarik bumi dan kelambanan saat mereka menyedot cairan.

Penelitian tersebut akan disiarkan di jurnal Science, terbitan Jumat (12/11/2010). Para ilmuwan sudah mengetahui bahwa ketika kucing memasukkan lidah mereka ke dalam mangkuk cairan, permukaan lidahnya mula-mula menyentuh cairan, lalu ujungnya yang melengkung seperti huruf J membentuk sejenis sendok besar. Itu pertama kali diamati oleh seorang insinyur MIT, yang merekam kucing yang sedang menghirup cairan pada 1940, demikian laporan kantor berita Prancis, AFP.

Namun, dengan mempelajari gambar tersebut, para peneliti sekarang dapat memutuskan bahwa tak ada dampak sendok. Tapi lidah kucing malah bergerak ke luar dan masuk mulutnya dengan sangat cepat sehingga tindakan itu membentuk satu lajur cairan.

"Kucing, tak seperti anjing, tak mencemplungkan lidah mereka ke dalam cairan sehingga membentuk seperti sendok," demikian antara lain isi pernyataan dari Departemen Rekayasa Lingkungan Hidup dan Sipil MIT. Malah, ujung lidah kucing yang mulus "nyaris tak menyentuh permukaan cairan sebelum kucing tersebut dengan cepat menarik lidahnya kembali ke dalam mulut".

"Karena kucing tersebut melakukan tindakan itu, satu lajur susu terbentuk di antara lidah yang bergerak dan permukaan cairan. Kucing kemudian menutup mulutnya, dan menjepit ujung lajur cairan agar dapat menikmati minumannya, sementara hewan tersebut menjaga dagunya tetap kering," katanya

Lajur cairan itu "diciptakan oleh keseimbangan lembut antara daya tarik bumi, yang menarik cairan kembali ke mangkuk, dan kelambanan, yang di dalam ilmu fisika, merujuk kepada kecenderungan cairan atau benda apa pun, terus bergerak di satu arah kecuali kekuatan lain ikut campur".

Kucing "secara insting mengetahui cara dengan cepat menyedot dengan tujuan menyeimbangkan kedua daya itu, dan kapan untuk menutup mulutnya. Jika hewan tersebut menunggu sedetik saja, kekuatan daya tarik bumi akan mengambil-alih kelambanan, sehingga lajur itu terpecah, sehingga cairan tersebut jatuh lagi ke dalam mangkuk, dan lidah kucing itu masuk ke dalam mulutnya dalam keadaan kosong".

Kucing rata-rata melakukan jilatan empat kali per detik. Masing-masing jilatan membawa sebanyak 0,1 mililiter cairan, kata para peneliti tersebut. Ditambahkannya, kucing yang lebih besar menjilat dengan cara yang lebih lamban.

SUMBER : KOMPAS

Mengubah Limbah Udang Menjadi Obat

Limbah udang adalah salah satu limbah yang jumlahnya cukup banyak di Indonesia. Tiap daerah pesisir yang memanen udang untuk dikonsumsi sebagai bahan makanan bisa menghasilkan berton-ton limbah. Limbah itu biasanya dibuang begitu saja atau kalaupun diekspor dengan harga sangat murah. Padahal, limbah yang terbuang ke perairan bisa merugikan lingkungan.

"Limbah udang jika dibuang akan merugikan. Limbah itu akan meningkatkan biological oxygen demand di perairan karena proses penguraiannya sehingga organisme yang ada di perairan itu bisa kekurangan oksigen di waktu tertentu. Selain itu, jika ada penguraian limbah dalam skala besar, hal itu akan berpengaruh pada iklim skala global," ungkap mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Surabaya.

Dari keprihatinannya, ia lalu mencari-cari referensi di jurnal internasional tentang kandungan-kandungan dari limbah udang yang bisa digunakan dan manfaatnya. Dari pencariannya, ia menemukan bahwa limbah udang mengandung senyawa yang disebut kitin, senyawa karbohidrat kompleks yang terdapat dalam rangka luar udang. Senyawa tersebut jika diolah dengan cara tertentu menjadi suatu senyawa bernama chitosan, akan dapat berfungsi untuk mengobati hiperlipidemia, suatu penyakit kelainan kadar lemak dalam darah yang dapat memicu penyakit mematikan seperti jantung koroner.

Selain itu, ia juga menemukan bahwa limbah udang sebenarnya juga dimanfaatkan di luar negeri. "Limbah udang yang diekspor ke luar negeri ternyata diolah menjadi produk baru, setelah itu produknya diekspor lagi ke Indonesia dan dijual dengan harga mahal," kata Claudia. Hal itu sangat menyakitkan sebab seharusnya warga Indonesia pun bisa mengolahnya.

Dengan bekal ilmu farmasinya, ia berusaha mengolah limbah udang itu menjadi obat hiperlipidemia atau kelebihan lemak (kolesterol dan trigliserida) dalam darah. Ia melakukan serangkaian proses di laboratorium dari pembersihan hingga pengeringan untuk mendapatkan senyawa chitosan yang bisa dimanfaatkan. Untuk melakukannya, ia dibantu oleh beberapa orang teman dan laboran.

Untuk melakukan penelitian itu ternyata bukan hal yang mudah. "Penelitian farmasi menelan dana yang tak sedikit. Saya harus mengupayakannya dengan menjual ini itu untuk memperoleh pendanaan. Untungnya, akhirnya pihak kampus memberikan pendanaan," lanjut Claudia.

Setelah upaya menghasilkan senyawa chitosan tadi, uji laboratorium untuk meneliti keefektifan chitosan pun dilakukan. Ia mempersiapkan 30 tikus putih sebagai obyek uji. Tikus putih yang tersedia dibuat memiliki kadar lemak yang tinggi hingga terlihat gemuk dan menunjukkan kadar lmak yang tinggi dalam tes darah.

Hasil dari uji laboratorium itu menunjukkan bahwa penggunaan chitosan dari limbah udang ini menunjukkan hasil yang baik. Kandungan lemak dalam darahbtikus berkurang dan pengurangannya tak jauhb beda dengan pengurangan ketika meminum obat yang diresepkan doktek. "Ini berarti bahwa chitosan yang diberikan cukup berkhasiat," ujar claudia.

Chitosan yang dipakai dalam percobaan telah dibentuk kapsul. Menurut claudia, hal itu tak mengurangi khasiat dari chitosan. Sebaliknya itu mempunyai manfaat dalam kepraktisannya. "Jika nanti diproduksi untuk manusia, chitosan akan lebih praktis dan orang mau meminumnya. Kalau mengkonsumsi chitosannya langsung, orang kan cenderung malas," kata Claudia menjelaskan.

Penggunaan chitosan dalam pengobatan hiperlipidemia akan menguntungkan dalam hal biaya. "Sekali minum obat paten, orang menghabiskan 11.000 jadi jika sehari minum 3 kali akan menghabiskan 33.000. Kalau dengan chitosan ini, sekali minum hanya 3.000 sehingga 3 kali minum 9.000," jelas Claudia. Dengan demikian, chitosan bisa dikonsumsi oleh lebih banyak orang.

Claudia mengungkapkan kini ia tengah berupaya untuk mendapatkan hak paten dari produknya. Selain itu, ia juga sedang mencari referensi dari berbagai jurnal sehingga chotosan dapat diujikan keefektifannya pada manusia. Ke depan, ia juga berupaya untuk mendapatkan ijin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) untuk mengedarkan obatnya. Konsumsi chitosan ini, seperti obat alami lainnya, jika digunakan dalam jumlah yang tepat takkan menimbulkan efek samping.

Atas penelitiannya itu, Claudia memenangkan Emil Salim Awards dari Program Climate Smart Leader, program yang diselenggarakan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YPB) dalam rangka menjaring anak-anak muda yang berkomitmen untuk melestarikan lingkungan agar dapat menjalankan visi misinya. Penghargaan Emil Salim Award diterimanya di Balai Sapta Pesona, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta, Minggu (24/10/2010) kemarin.

Terkait dengan orientasi ke depannya, claudia mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan temuannya sebagai dasar bisnis, atau yang ia sebut dengan social entrepreneurship. Lewat bisnis itu, ia berharap bahwa bisnis ini bisa memberdayakan dan memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Setelah mengikuti Climate Smart Leader, ia mengaku bahwa banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan untuk melestarikan lingkungan. "Selama kita memiliki komitmen untuk lingkungan, kita bisa melakukannya," tandasnya dengan penuh semangat.

Agar dapat memperluas visi misinya, ia juga mendirikan d'Young Greens, sebuah klub yang berupaya untuk memotivasi dan mengumpulkan anak muda agar peduli dengan lingkungannya. Ia melakukan berbagai cara sehingga klub yang diprakarsainya bisa lebih dikenal, misalnya dengan membuat stiker dan kalender. Well, selamat berjuang!

SUMBER : KOMPAS

Teknologi Murah Pemantau Kapal

Pameran Indo Defense 2010 diadakan mulai 10 - 13 November 2010 di Jakarta International Expo, Kemayoran. Salah satu peserta lokal yang memamerkan produknya adalah PT Imani Prima yang memamerkan program pemantau kapal bernama Aissat Prime.

Program pemantau kapal itu digunakan untuk memantau keberadaan kapal di suatu wilayah. "Dengan program ini, kita bisa memantau dimana kapal berada, nama kapal, nomor seri kapal, bendera negara kapal serta kecepatan kapal tersebut. Jadi bisa dikatakan program ini lebih bisa memantau lebih detail dari radar," kata Firdaus Adinugraha, staf Imani Prima.

Aissat Prime terdiri dari tiga jenis produk, yaitu port prime, sat prime, and M2 Prime. Port prime digunakan untuk melayani kebutuhan data dasar dan gratis, sat prime melayani kebutuhan data yang lebih detail dan berbayar sementara m2 time digunakan untuk melayani kebutuhan data khusus permintaan.

SUMBER : KOMPAS

"Teknologi ini sebenarnya merupakan pemanfaatan dari teknologi AIS atau Automatic Identification System yang dimiliki oleh setiap kapal," ungkap Firdaus. Teknologi tersebut memungkinkan setiap kapal untuk mengirimkan data-datanya ke kapal lain dan ke satelit untuk mengirimkan data keberadaannya.

Dengan teknologi Aissat Prime, data-data tersebut diolah dan ditampilkan pada konsumennya dengan lebih komunikatif. "Data-data kiriman itu kan menggunakan bahasa program. Nah, dengan teknologi ini data tersebut dibuat agar lebih komunikatif," ungkap firdaus.

Saat ini, teknologi Aissat Prime yang sudah diaplikasikan secara luas adalah Port Prime. Data data yang diolah oleh teknologi tersebut telah dimanfaatkan oleh Badan Koordinasi Keamanan Laut Indonesia dan bahkan digunakan Cina untuk mendeteksi pembajakan salah satu kapalnya.

Pengaplikasian teknoloigi Port Prime ini dimulai dengan instalasi antena dan pengirim data di pelabuhan. "Antenanya sendiri relatif murah, bisa dibeli di Glodok bahkan. Sementara, proses pengiriman datanya ke server yang ada di Jakarta dilakukan dengan teknologi yang ada di daerah. Kalau misalnya adanya GPRS, ya itu yang kita pakai," jelas Firdaus.

Hingga saat ini, instalasi teknologi pendukung Port Prime telah tersedia di beberapa daerah di Indonesia dan luar negeri. "Ada 12 wilayah di Indonesia dan di luar negeri ada di Yunani, Cina, dan Singapura," ujar Firdaus. Titik pemantauan di timur Inbdonesia telah ada di Bali dan Sulawesi.

Firdaus mengatakan, teknologi yang relatif murah ini sebenarnya dapat berguna besar. "Misalnya kita ingin mendeteksi kecelakaan kapal, kita juga bisa menggunakan teknologi ini, asal kapal tersebut punya teknologi AIS. Saat ini teknologi AIS sudah diwajibkan di semua kapal, " kata Firdaus. Menurutnya, Cina pun bahkab pernah menggunakan teknologi ini untuk mendeteksi kapal lautnya yang dibajak, dan berhasil.

Saat ini, ia ingin mengembangkan produk Port Prime nya hingga ke Jayapura. Sementara, versi lainnya seperti M2 Prime dan Sat Prime juga masih dikembangkan. Untuk Sat Prime, ia bekerjasama dengan Orbcomm Internasional untuk penyediaan data dari satelit. Hingga saat ini, ia masihb berusaha menawarkan produknya agar bisa digunakan TNI AL.